JURnaL Celebes. Berbagai pihak menyimpulkan penyebab banjir di Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan akibat faktor kelalaian manusia dan alam. Kelalaian manusia yang menyebabkan hilangnya tutupan hutan sehingga menyebabkan berkurangnya daya dukung lingkungan. Faktor alam karena kondisi morfologi tanah di wilayah Luwu Utara dan dipicu curah hujan yang tinggi.

Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalukan analisa dan menyimpulkan pembukaan lahan di hulu DAS Balease dan penggunaan lahan masif berupa perkebunan sawit menjadi salah satu penyebab banjir bandang. Konversi lahan yang tidak memperhitungkan daya dukung ekologis menyebabkan wilayah DAS tak bisa menyerap dan menahan limpahan air.

Sementara data Pusat Penginderaan Jarak Jauh, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebutkan, hasil analisis berdasarkan citra satelit, tutupan lahan di DAS Balease, Rongkong dan Amang Sang An mengalami penurunan (degradasi dan deforestasi) hutan primer sekitar 29.000 hektar. Dalam jumlah tersebut juga terjadi peningkatan pertanian lahan basah sekitar 10.595 hektar dan lahan perkebunan sekitar 2.261 hektar.

Alihfungsi hutan juga menjadi simpulan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sesuai hasil analisa BPBD, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan pertambangan di hulu menjadi salah satu sebab terjadi banjir bandang. BPBD menduga penyerapan air ke dalam tanah tidak terjadi maksimal saat hujan lebat akibat karena telah hilang sebagian areal tutupan hutan. Hal ini menyebabkan air mengalir menjadi banjir bandang menerjang Masamba dan beberapa kecamatan di wilayah hilir yang rendah secara topografi.

Banjir dan longsor di Luwu Utara, 13 Juli 2020, menyebabkan banyak korban jiwa. Data 22 Juli, sekitar 38 orang meninggal dunia, dan 46 orang hilang.  Sementara sekitar 14.483 warga di Masamba 7.748 Baebunta 5.808 jiwa, dan Sabbang 927 harus mengungsi. (adm)